Ada seorang eksekutif muda sedang mengendarai BMW seri terbarunya
seorang diri. Tiba-tiba terjadi kecelakaan yang menyebabkan pintu
mobilnya lepas. Sang eksekutif muda itu spontan saja terkejut.
"Wahhh!!!
Pintunya lepas...pintunya lepas!" Dia terus saja berteriak-teriak tidak
karuan sampai seorang polisi tiba untuk mengevaluasi kecelakaan
tersebut.
Eksekutif itu berkata kepada si polisi, "Pak! Bagaimana ini, pintu mobil saya rusak!"
Sahut si polisi, "Anda ini bagaimana! Pintu mobil saja yang anda ributkan! Lihat tuh tangan anda putus!"
Si eksekutif melihat tangannya yang putus dan berteriak histeris,
"Waaaa... Jam tangan Rolex saya mana?!!"
Si polisi tidak bisa komentar apa-apa lagi.
Marman adalah seorang serdadu yang sudah kenyang ditugaskan di daerah
konflik. Oleh tetangganya, Marman dijuluki pahlawan perang. Tapi Marman
harus membayar mahal karena banyak anggota tubuhnya yang sudah palsu
akibat luka-luka semasa bertugas di medan tempur. Kaki Marman palsu,
tangannya palsu, dan berbagai anggota tubuh lainnya juga palsu. Tapi ada
satu kebiasaan Marman yang tak hilang. Yaitu kegemarannya main taruhan.
Suatu hari, Marman bertaruh dengan tetangganya, si Badu.
Marman: "Badu, ayo kita bertaruh."
Badu: "Taruhan apa, Pak Marman?"
Marman: "Saya akan menggigit telinga saya sendiri."
Badu: "Ah, mana mungkin ada orang bisa menggigit telinga sendiri. Melihat tanpa cermin pun tidak bisa. Apalagi menggigit."
Marman: "Makanya, taruhan Rp 500 ribu, yuk!"
Badu: "Oke, siapa takut."
Setelah
disepakati, Marman pun melepas telinga palsunya dan menggigitnya. Badu
jelas kesal karena kalah taruhan. Keesokan harinya, Marman menantang
Badu taruhan lagi.
Marman: "Mau taruhan lagi, Rob?"
Badu: "Oke, tapi saya yang pilih jenis taruhannya."
Marman: "Oke, no problem."
Badu: "Kalau Pak Marman bisa menggigit mata sendiri, saya bayar 1 juta."
Badu
berani bertaruh seperti itu karena Marman bisa melihat dengan jelas dan
tidak buta. Maka tidak mungkin ia melepas bola matanya. Karena bola
mata itu asli. Tapi dasar Marman si Pahlawan Perang, dia pun tetap
nekat.
Marman: "Oke, saya setuju!"
Marman pun segera melepas gigi palsunya, dan menggigitkan gigi itu ke matanya sendiri.
Ada seorang anak yang sedang lapar minta makan kepada bapaknya:
Anak: "Minta ubi goreng pak.."
Bapak: "Jangan kamu minta ubi goreng, minyak goreng mahal.."
Anak: "Dibakar aja atau direbus."
Bapak: "Jangan kamu minta direbus dengan kompor, minyak tanah mahal."
Anak: "Atau kita bakar aja dengan kayu api?"
Bapak: "Jangan! Nanti kita ketahuan curi kayu api, nanti bisa kena pasal ilegal loging, nanti kita masuk penjara!"
Anak: "Atau kita makan aja ubi ini mentah- mentah?"
Bapak: "Jangan! Nanti kita sakit perut, beli obat mahal.."
Anak: "?!?!?!"
Di jalan depan rumah Tono dekat trafic light konon tiap malam Jumat
sering ada angkot setan. Suatu ketika Tono ingin membuktikan sendiri
kebenaran berita tersebut.
Pas hari Jumat jam 00.00 tono coba
sembunyi dekat trafic light. Memang keadaan di situ kalau malam terlihat
sangat gelap dan sunyi, mebuat bulu kuduk merinding. Tiba tiba dari
arah ujung jalan nampak angkot yang kelihatannya aneh.
Tepat di
trafic light tersebut angkot itu berhenti, padahal lampu menyala hijau.
Setelahnya turun wanita berbaju merah dari dalam angkot.
Bersamaan
dengan itu, tiba-tiba angkot tersebut tancap gas alias ngebut. Tak ayal
si wanita tersebut sangat kaget dan hampir terjatuh.
Akhhirnya wanita tersebut maki maki sambil teriak, " DASAR ANGKOT SETAANNN..!!"
Seorang wanita pekerja panti pijat plus berbelanja di Carefour, lalu membayar di kasir. Tiba-tiba dia ditegur oleh kasir.
Kasir: "Maaf Mbak, uang anda ini palsu."
Pekerja: "Ah masak sih Mbak, coba saya lihat... Wah benar ini uang palsu, sialan berarti saya semalam telah diperkosa."
Kasir: "?????"
Suatu hari ada kecelakaan mobil menabrak pohon yang menewaskan 3 anak
pejabat di negri ini, polisi datang untuk olah TKP tapi tak menemukan
seorangpun untuk dimintai keterangan.
Tiba tiba ada suara monyet
dari dalam mobil yang ringsek itu, dan sang monyetpun berteriak teriak
untuk menarik perhatian polisi. Polisi lalu bertanya pada sang monyet:
"Oh jadi kamu tahu kejadiannya?"
"Uu.. aa.. uu.. aa.." kata sang monyet sambil mengangguk angguk.
"Coba ceritakan.." kata polisi. Sang monyet memperagakan orang minum.
"Oh, jadi mereka mabuk.." sang monyet mengangguk.
"Terus apalagi..?" Monyet memperagakan orang merokok.
"Oh mereka menghisap ganja..?" kata polisi. Monyet mengangguk lagi.
Kemudian polisi bertanya serius pada sang monyet, "Lha kamu ngapain di dalam mobil ini..?"
Sang monyetpun lalu bergumam sambil memperagakan tangannya seperti orang sedang menyetir mobil.
Seorang pria sedang berlibur ke Lombok. Istrinya tidak ikut karena
ada urusan bisnis di Jakarta dan baru bergabung keesokan harinya. Ketika
sampai di hotel, pria itu mengirimkan email kepada istrinya. Karena
lupa alamat email istrinya, maka dia mencoba seingatnya.
Sialnya,
dia melupakan satu huruf dan e-mail tersebut terkirimkan ke seorang
perempuan Aceh yang suaminya baru saja meninggal. Saat wanita yang
sedang berduka itu membaca email tersebut, ia berteriak dengan hebat
lalu jatuh pingsan.
Keluarganya segera berlari ke dalam ruangan
dan melihat isi surat di layar komputer: "Istriku tercinta, aku baru
saja sampai. Di sini panas sekali. Segala sesuatu telah disiapkan untuk
kedatanganmu besok."
Untuk memperingati hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus, maka
terjadilah perdebatan seru seputar analisis, kritik, apresiasi, dan
perkembangan film Indonesia sekarang ini. Ada yang berpendapat bahwa
banyaknya film yang diproduksi bukan indikator kemajuan film Indonesia.
Ada juga yang berpendapat bahwa bagaimanapun banyaknya film yang sudah
diproduksi merupakan bukti kemajuan film Indonesia. Pokoknya seru sekali
perdebatan saat itu. Namun, ada satu mahasiswa yang dari awal diskusi
hingga akhir tampak bengong saja seperti enggan terlibat dalam diskusi.
Pak dosen bertanya, "Charles, dari tadi kamu kok diam saja. Apa kamu tidak suka dengan film Indonesia?"
"Bukan, Pak."
"Lalu kenapa diam?"
"Soalnya tidak ada teksnya, Pak. Kalau film barat kan ada teksnya."
Seorang kepala sekolah yang baru ditugaskan di sebuah sekolah di desa
pedalaman ingin tahu pengetahuan sejarah nasional murid-murid kelas
enam.
"Anak-anak, siapa yang menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?" tanyanya.
Tidak
ada yang menjawab. Ia pun merasa kecewa karena di antara murid itu
tidak ada yang tahu jawaban tersebut. Seperginya kepala sekolah dari
ruang kelas, Pak Mahmud, guru wali kelas 6 yang cemas jangan-jangan ia
yang kena batunya, berdiri di depan kelas.
Dengan wajah serius ia
berkata, "Ini soal naskah Proklamasi yang ditanyakan oleh Bapak Kepala
Sekolah tadi. Sebaiknya kamu mengaku saja kalau ada di antara kamu yang
menandatanganinya."
Ini cerita di Pasar Tanah Abang menjelang hari raya Idul Fitri.
Pembeli: "Bang.. ada baju koko nggak?"
Penjual: "Ooo.. ada, mas. Kebetulan lagi laku.. kan mo lebaran."
Pembeli: "Yang paling murah aja, bang."
Penjual: "Hmm.. kalau paling murah, ini ada.. tinggal satu. Tapi warnanya hitam..."
Pembeli: "Ngga papa.. saya malah suka yang warna hitam. Polos ato bermotif, bang?"
Penjual: "Ada sulamannya.. trus di bagian punggung juga ada gambarnya.."
Pembeli: "Ngga papa.. saya juga suka yang bermotif. Soalnya yang polos udah standar. Emang gambar apa di belakangnya, bang.."
Penjual: "Gambar tengkorak...."
Pembeli: "...??"